Wednesday, December 9, 2009

Koin 'Kasih Sayang' untuk Keadilan Prita

Kita semua sudah tahu cerita tentang Prita Mulyasari, seorang ibu rumah tangga yang harus dimejahijaukan hanya karena berkeluh kesah kepada teman-temannya melalui email. Keluh kesah tersebut tentang pelayanan RS OMNI - Tangerang yang beliau rasa tidak bekerja secara maksimal dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada dirinya. Hasilnya dari proses itu kita semua juga sudah tahu, Prita Mulyasari diganjar hukuman membayar denda Rp.204.000.000,00.

Benar bahwa putusan Pengadilan Negeri Banten tersebut belum berkekuatan hukum tetap (sampai tulisan ini dibuat Prita masih mengajukan kasasi ke MA), tetapi masyarakat menilai telah terjadi ketidakadilan. Prita yang notabene telah dirugikan oleh rumah sakit tersebut malah terkena denda yang secara material sulit dipenuhi oleh Prita yang hanya seorang pegawai swasta.

Rasa ketidakadilan inilah yang selanjutnya menumbuhkan simpati luas dari masyarakat kepada Prita Mulyasari. Tidak hanya ketika awal kasus ini terekspos dengan banyaknya dukungan melalui facebook, dukungan berlanjut setelah proses peradilan panjang yang kembali menyisakan banyak ketidakadilan bagi Prita. Denda yang begitu besar membuat hati masyarakat tergerak untuk turut membantu membayar denda tersebut.


Muncullah Gerakan Koin Peduli Prita. Sebagai simbol perlawanan terhadap perlakuan yang tidak adil tersebut dipilihlah koin. Koin merupakan pecahanmata uang rupiah terkecil dan dimiliki oleh semua masyarakat indonesia. Dalam mata uang rupiah ada banyak pilihan koin, mulai dari Rp.25,00; Rp.50,00; Rp.100,00; Rp.200,00; Rp.500,00; sampai dengan koin bernilai Rp.1.000,00.

Sejak digulirkan gerakan ini mendapatkan sambutan luas dari segenap masyarakat luas. Bukan hanya masyarakat yang berkantung tebal, ibu-ibu rumah tangga, abang becak, para pengamen, dan anak-anak sekolah turut mengumpulkan koin untuk membantu Prita. Bahkan, anak-anak kecil pun merelakan uang jajan dan tabungan mereka untuk disumbangkan Prita Mulyasari. Sebuah gerakan yang luar biasa...

Lantas, bagaimana dengan Anda? Tergerak untuk menyumbang atau cukup diam, semua keputusan ada di hati Anda.